Bupati Muda: Jaga Ketenangan Masyarakat, Efektifkan Penanganan Covid-19

Kamis, 12 November 2020 | Covid-19

KUBURAYA - Bupati Kubu Raya Muda Mahendrawan memimpin Rapat Evaluasi Penanganan Pandemi Covid-19 di Kabupaten Kubu Raya, yang bertempat di Kantor Bupati Kubu Raya, pada Rabu 11 November 2020.

Bupati itu mengatakan, sejak awal pandemi Covid-19 melanda, penanganan pun lebih dititik tekankan langsung ke setiap desa-desa.

Dengan begitu, kata Muda penanganan lebih dapat terukur dan langsung mendarat ke masyarakat. 

"Pertama arah-arah yang sudah dilakukan sejak awal yang sebelumnya Gugus Tugas Desa menjadi Satgas. Nah ini langsung disesuaikan,"

"Kita juga sudah mengandalkan sejak maret dulu itu bergeraknya di desa yang lebih menjadi dititik tekan. Karena akan mendarat langsung, dan lebih terukur kerjanya," kata Muda Mahendrawan.

Lanjut Muda menerangkan, penanganan Covid-19 di Kabupaten Kubu Raya merupakan tantangan baginya.

Hal itupun kata Muda, dapat dilihat dari jumlah penduduk serta letak geografis kabupaten Kubu Raya yang juga terdapat tiga pintu jalur masuk.

"Dan wilayah kita ini justru rentannya sangat tinggi sebetulnya, kalau dilihat dari segi geografis. Pertama dia bersebrangan dengan kota. Kedua ada bandara. Ketiga dia pintu darat juga jalur masuk ambawang," kata Muda.

"Namun Alhamdulillah berkat kepung bakul dan antisipasi masyaakat cukup tinggi. Sehingga membuat upaya-upaya melakukan langkah-langkah yang sifatnya ketenangan dan tidak panik itu bisa kita lakukan," tuturnya. 

Kendati demikian, Muda tetap yakin pandemi Covid-19 dapat dilalui khususnya di wilayah Kabupaten Kubu Raya.

Dengan pendekatan-pendekatan penanganan melalui psikis, atau menjaga ketenangan masyarakat, hal itupun dirasa Muda langkah yang sangat tepat.

"Kami tetap yakin, dari awal dulu sejak pandemi hadir yang selalu kami katakan adalah tidak hanya faktor soal fisik atau biologi, tetapi juga soal psikis, ini yang paling utama,"

"Karena sudah menjadi empiris di dunia bahkan. Dari pakar semua mengatakan bahwa 70 persen lebih berpengaruh karena faktor psikis, faktor depresi, kecemasan berlebihan," terangnya.

"Makanya kita selalu membuat kebijakan tuh yang tidak membuat panik," tambahnya. (*)

Sumber Berita klik disini